SEJARAH TINJU DI INDONESIA

Indonesia memiliki sejarah panjang dalam perkembangan tinju profesional. Olahraga ekstrim ini memiliki lika-liku tersendiri , terlebih ada beberapa korban yang tercatat meninggal setelah mengikuti kompetisi tinju ini. Terlepas dari resiko nya, tetap saja banyak penggemar olahraga tinju di Nusantara. Pada Oktober 1973, tercatat ada 35.000 penonton yang datang ke Stadion Senayan Jakarta untuk menonton langsung aksi tinju Muhammad Ali dan Rudi Lubbers.

Hampir 12 tahun kemudian, Indonesia memiliki Juara Dunia sendiri, yaitu Ellyas “The Exocet” Pical. Ia merupakan Juara Dunia IBF kelas Bantam Junior pada Mei 1985.

Bagaimanapun juga, sejarah tinju Indonesia memiliki cerita menarik, mulai dari era 1980an hingga saat ini. Untuk 1 dekade tarakhir, Chris John, Daud Cino Yordan, dan Ongen Saknosiwi menjadi nama yang familiar. Tetapi jangan lupakan Ellyas Pical, Nico Thomas, dan petinju era 80an lainnya.

The World Boxing Council (WBC), yang memberikan perhatian mereka pada sanksi utama olahraga bereaksi lambat atas apa yang terjadi dengan dunia tinju Indonesia. Pada tahun 1980-an ada sembilan petinju yang kehiangan nyawa saat bertanding diatas ring tinju. Ini diawali dengan cedera selama beberapa hari sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Dua diantaranya meninggal dalam waktu 18 hari.

Hingga akhirnya, pada Desember 2002, WBC melarang petinju Indonesia untuk bertarung di kejuaraan yang disetujui WBC di luar negeri. Bahkan, Petinju dari 161 negara angotanya juga dilarang untuk bertanding di Indonesia.

Namun, Peraturan dari WBC ini dicabut pada 2003 dengan beberapa persyaratan yang berhubungan dengan keamanan petinju ketika mereka bertanding di ring. Ada beberapa langkah yang harus diikuti untuk keselamatan petinju dan dibentuklah Komisi atau badan untuk mengawasi pertandingan dan pelanggaran.

Badan tersebut adalah BPOPI (Badan Pengawas Olahraga Profesional Indonesia) oleh pemerintah pada 2002. Langkah yang diambil diantaranya, menyelenggarakan seminar medis untuk para petinju dan wasit selama tiga hari di Jakarta. Seminar ini dihadiri lebih dari 100 official. Namun tetapa saja, masih ada beberapa pemuda yang terus meninggal sehingga elektabilitas BPOPI dipertanyakan banyak pihak.

Beruntung, dalam beberapa tahun terakhir, ada perkembangan positif di dunia tinju Indonesia. Tidak hanya itu saja, kejuaraan beberapa kelas berat pernah diraih oleh petinju profesional asal Indonesia. Setelah masa Ellyas Pical, muncul beberapa petinju pro Indonesia yang menjadi favorit dan ikut mengharumkan nama Indonesia. Berikut kami rangkum 8 petinju Indonesia yang berhasil menjadi Juara Dunia :

1. Ellyas Pical

Ellyas Pical merupakan pelopor petinju profesional asal Indonesia yang menjadi juara dunia. Pria asal Maluku ini sukses menjadi juara dunia tinju kelas IBF kelas Bantam Junior (kelas terbang super) pada 3 Mei 1985. Sabuk juara dunia ini ia peroleh setelah menjatuhkan lawannya, Ju Do-Chon di Jakarta. Prestasi nya sebagai juara dunia bak roller coaster. Setelah kejuaraan dunia yang ia peroleh pada tahun 1985, Elly sempat kalah untuk mempertahankan prestasinya saat kalah dalam duel unifikasi gelar melawan Khaosai Galaxy dari Thailand. Tanpa membutuhkan lama baginya untuk bangkit kembali dan menjadi Juara Dunia setelah mengalahkan Tae Il-Chung. Seiring berjalannya waktu, Elly harus melepaskan sabuk tinju kejuaraan nya setelah dikalahkan Juan Polo Perez pada 1993.

2. Nico Thomas

Nico Thomas memiliki fisik yang mungil sebagai seorang petinju profesional. Namun tidak menjadi penghalangnya untuk menundukkan Ammuth Sithnaruepol asal Thailand pada 17 Juni 1989 di Jakarta. Pada momen tersebut, Nico Thomas berhasil menjadi juara dunia Kelas Terbang Mini IBF pada 1989. Hanya saja, Nico kalah dengan status KO oleh petinju asal Filipina Eric Chavez pada 21 September 1989.

3. Suwito Lagola

Suwito Lagola merupakan petinju professional yang dikenal luas pada tahun 1990-an. Suwito menjadi juara dunia Kelas Welter WBF pada 1995-1997. Debut Juara Dunia pertamanya tercipta saat menang TKO atas William Magahin pada 21 Oktober 1995. Sayangnya, Suwito Lagola harus mengundurkan diri sebagai petinju profesional pada tahun 2000. Dari informasi yang berhasil kami rangkum, ia merasa kecewa atas segala yang dijanjikan padanya sebagai Juara Dunia. Bagaimanapun juga, prestasi Suwito sebagai tiga kali Juara Dunia sudah tercatat dalam sejarah panjang dunia tinju Indonesia.

4. Ajib Albarado

Beralih ke Ajib Albarado petinju profesional asal Surabaya yang berhasil menjuarai Kelas Ringan Super WBF (Welter Junior). Gelar juara dunia pertama kali nya adalah saat melumpuhkan Dindo Canoy asal Filipina pada 28 Maret 1996. Pemilik nama asli Ahmad Tajid ini berhasil menguasai sabuk Kelas Ringan Super sejak 1996 hingga 2000.

5. M Rahman

M Rahman tercatat sebagai petinju profesional dunia kelas Terbang Mini IBF pada 2004-2007 dan 2011. Tak tanggung-tanggung, ia berhasil mengalahkan petinju asal Kolombia, Daniel Reyes dengan status TKO. Tak hanya itu, pada 2011, petinju asal Thailand, Kwantai Sithmorseng pun pernah ia buat KO pada ronde ke 9. Dari duel tersebut, M Rahman meraih kembali status Juara Dunia nya setelah kehilangan gelar pada 2007.

6. Chris John

Chris John merupakan petinju asal Indonesia yang mencuri perhatian dunia. Ia memiliki julukan “The Dragon” karena memiliki status Juara Dunia terlama dalam sejarah tinju Indonesia. Bayangkan saja, Chris John berhasil menguasai tinju kelas Bulu WBA selama 10 tahun sejak 2003-2013. Prestasi ini diawali dengan dengan mengalahkan Oscar Leon di Kelas Bulu WBA.

Setahun kemudian, pada 2004, Chris John menjatuhkan Osamu Sato. Selain mempertahankan gelar Kelas Bulu WBA selama satu dekade, Chris John menjadi juara Kelas Bulu Super WBA sebanyak enam kali dengan menaklukan Rocky Juarez dan lawan lainnya. Akhirnya pada 2013, Simpiwe Vetyaka membuat dominasi Chris John memudar pada 6 Desember 2013.

Fakta menarik seputar Chris John yaitu ia mengawali kariernya sebagai atlet wushu.

7. Daud Yordan

Daud Cino Yordan yang berasal dari Kalimantan, Indonesia merupakan petinju profesional yang memiliki 3 gelar juara dunia sekaligus. Gelar tersebut diantaranya; Juara Dunia Kelas Bulu WBO, Juara Kelas Terbang WBO , dan Juara Kelas Ringan Super WBO dan IBA. Masing-masing setelah melumpuhkan lawan-lawannya, yaitu; Lorenzo Villanueva , Daniel Eduardo Brizuela, dan Michael Mokoena pada 2019.

8. Ongen Saknosiwi

Ongen Saknosiwi merupakan petinju profesional asal Maluku, Indonesia dengan prestasi Juara Dunia tinju Kelas Bulu IBA. Ongen mangawali debut tinju profesional saat mengalahkan Imanuel Hutagalung di domestik. Kemudian mengalahkan Nanthawat Maolichat untuk menjadi Juara Kelas Bulu WBC Asian Boxing Council Continental.

Menariknya, Ongen Saknosiwi juga merupakan prajurit TNI-AU Indonesia saat menjadi juara Dunia dan mengalahkan Marco Domecillo pada 17 November 2019.